Adat Istiadat Kabudayaan Provinsi Bali

Suku Bali merupakan salah satu dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia yang memberikan keunikan tersendiri.  Memberikan warna kebudayaan yang berbeda menjadikan Pulau Bali banyak dikenal oleh seluruh masyarakat baik Indonesia maupun Mancanegara.

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan yang menguasai seluruh Pulau Bali dan mengembangkan kebudayaan Hindu. Dalam bahasa Bali, suku Bali disebut Anak Bali, Wong Bali, atau Krama Bali merupakan etnis yang mendiami Pulau Bali.

Secara garis besar, Masyarakat Bali mewariskan kebudayaannya secara turun menurun sehingga tetap terjaga sampai sekarang.

ADAT SUKU BALI

  1. Upacara Adat Ngaben

Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali, Indonesia. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan menemukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara ngaben ini juga menjadi simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

Dalam ajaran agama Hindu, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terddiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya.

Tujuan upacara ngaben

Secara garis besarnya Ngaben adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mendampingi Atma (Roh) ke alam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia bakal bisa kembali pada alamnya, yakni alam Pitra. Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah supaya ragha sarira (badan / Tubuh) cepat bisa kembali terhadap asalnya, yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma bisa selamat bisa berangkat ke alam pitra.

Ada suatu buku yang berjudul ”108 Mutiara Veda” Terbitan tahun 2001, cocoknya di halaman 107, ada tersurat yang dikutip dari: Yajurveda: 40-15. Dalam bukit itu disebutkan bahwa;

  • Wahai manusia, badanmu yang dibangun oleh panca mahabhuta akhirnya menjadi abu dan atmanya bakal mendapat moksa.
  • Oleh sebab itu, ingatlah nama Tuhan, yaitu AUM, ingatlah nama Tuhan AUM, dan ingatlah lakukananmu.

Jadi dalam kitab suci veda samhita, dalam faktor ini kitab yajurveda ada tersurat bahwa setiap orang (Hindu) yang meninggal mayatnya wajib dibangun menjadi abu supaya atmanya mencapai moksa. Tapi apakah dengan upacara ngaben langsung bisa mencapai surga alias moksa? Apabila menurut kami semacamnya itu belum tentu. Bisa dilihat pada Kutipan dari Yajurveda diatas pada kalimat terbaru. “Ingatlah lakukananmu” pastinya ketika kami telah meninggal kami bakal mempertanggung jawabkan lakukanan kami semasa nasib. Apakah layak alias tidaknya untuk mencapai surga ataupun moksa.

Pelaksanaan ritual upacara ngaben

Ngaben adalah upacara yang besar dan pastinya itu memerlukan anggaran yang ketidak sedikitan. Bagaimanakah bagi mereka yang tak lebih mampu? Agama Hindu fleksibel dan pastinya ada kebijakan-kebijakan tentang kondisi demikian. Biasanya diadakannya ngaben massal yang pasti dari sisi anggaran bakal lebih mengurangi. Dan dari beberapa penelusuran terhadap beberapa lontar di Bali, ngaben nyatanya tak rutin besar. Ada beberapa tipe ngaben yang justru sangat sederhana. Ngaben-ngaben tipe ini antara lain Mitrayadnya, Pranawa dan Swasta. Tetapi demikian, tersedia juga beberapa tipe upacara yang termasuk besar, semacam sawa prateka dan sawa wedhana. Berikut Tipe – tipe Ngaben Sederhana

a. Mendhem Sawa

Mendhem sawa berarti penguburan mayat. Di muka dijelaskan bahwa ngaben di Bali tetap diberbagi peluang untuk ditunda sementara, dengan argumen beberapa faktor semacam yang telah diuraikan. Tetapi diluar itu tetap ada argumen yang bersifat filosofis lagi, yang didalam naskah lontar belum diketemukan. Mungkin saja argumen ini dikarang yang dikaitkan dengan landasan alias latar belakang filosofis adanya kenasiban ini. Alasannya adalah supaya ragha sarira yang berasal dari unsur prthiwi sementara bisa merunduk pada prthiwi dulu. Yang dengan cara ethis dilukiskan supaya mereka bisa mencium ibu prthiwi. Tetapi butuh diingatkan bahwa pada prinsipnya setiap orang mati wajib segera di aben. Bagi mereka yang tetap memerlukan waktu menantikan sementara maka sawa (jenasah) itu wajib di pendhem (dikubur) dulu. Dititipkan pada Dewi penghuluning Setra (Dewi Durga).

b. Ngaben Mitra Yajna

Ngaben Mitra Yajna Berasal dari kata Pitra dan Yajna. Pitra artinya leluhur, yajna berarti korban suci. Istilah ini dipakai untuk menyatakan tipe ngaben yang diajarkan pada Lontar Yama Purwana Tattwa, sebab tak disebutkan namanya yang pasti. Ngaben itu menurut ujar lontar Yama Purwana Tattwa adalah Sabda Bhatara Yama. Dalam warah-warah itu tak disebutkan nama tipe ngaben ini. Untuk membedakan dengan tipe ngaben sedehana lainnya, maka ngaben ini diberi nama Mitra Yajna. Pelaksanaan Atiwa-atiwa / pembakaran mayat ditetapkan menurut ketentuan dalam Yama Purwana Tattwa, khususnya tentang upakara dan dilaksanakan di dalam tujuh hari dengan tak memilih dewasa (hari baik).

c. Pranawa Pranawa

Pranawa Pranawa adalah aksara Om Kara. Adalah nama tipe ngaben yang mempergunakan huruf suci sebagai simbol sawa. Dimana pada mayat yang telah dikubur tiga hari sebelum pembakaran mayat diadakan upacara Ngeplugin alias Ngulapin. Pejati dan pengulapan di Jaba Pura Dalem dengan sarana bebanten untuk pejati. Ketika hari pembakaran mayat jemek dan tulangnya dipersatukan pada pemasmian. Tulangnya dibawah jemeknya diatas. Kemudian berlsaya ketentuan semacam amranawa sawa yang baru meninggal. Ngasti hingga ngirim juga sama dengan ketentuan ngaben amranawa sawa baru meninggal, semacam yang telah diuraikan.

d. Pranawa Bhuanakosa

Pranawa Bhuanakosa adalah aliran Dewa Brahma terhadap Rsi Brghu. Dimana Ngaben Sawa Bhuanakosa bagi orang yang baru meninggal mesikipun sempat ditanam, disetra. Kalau mau mengupakarai sebagai jalan dengan Bhuanakosa Prana Wa.

e. Swasta

Swasta artinya lenyap alias hilang. Adalah nama tipe ngaben yang sawanya (mayatnya) tak ada (tan kneng hinulatan), tak bisa dilihat, meninggal didaerah kejauhan, lama di setra, dan lain-lainnya, semuanya bisa dilsayakan dengan ngaben tipe swasta. Mesikipun orang hina, biasa, dan uttama sebagai badan (sarira) orang yang mati disimbolkan dengan Dyun (tempayan) sebagai kulit, benang 12 iler sebagai otot, air sebagai daging, balung cendana 18 potong.

Pranawa sebagai suara, ambengan (jerami) sebagai pikiran, Recafana sebagai urat, ongkara sebagai lingga nasib. Tiga hari sebelum pembakaran mayat diadakan upacara ngulapin, bagi yang meninggal di kejauhan yang tak diketahui dimana tempatnya, upacara pengulapan, bisa dilsayakan diperempatan jalan. Dan bagi yang lama di pendhem yang tak bisa diketahui bekasnya pengulapan bisa dilsayakan di Jaba Pura Dalem.

Secara umum rangkaian pelaksanaan ritual upacara budaya ngaben ini sebagai berikut :

Ngulapin, Ngulapin bermakna sebagai upacara untuk terbuktigil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah yang bersangkutan (umpama di Rumah Sakit, dll). Upacara ini dilaksanakan tak sama sesuai dengan tata tutorial dan tradisi setempat, ada yang melaksanakan di perempatan jalan, pertigaan jalan, dan kuburan setempat.

Nyiramin atau Ngemandusin, Adalah upacara memandikan dan membersihkan jenazah, upacara ini biasa dilsayakan dihalaman rumah keluarga yangbersangkutan (natah). Pada prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol semacam bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis, dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali manfaat-manfaat dari tahap tubuh yang tak dipakai ke asalnya, dan apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali supaya dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).

Ngajum Kajang, Kajang adalah selembar kertas putih yang ditulisi dengan aksara-aksara magis oleh pemangku, pendeta alias tetua budaya setempat. Seusai berakhir ditulis maka para kerabat dan keturunan dari yang bersangkutan bakal melaksanakan upacara ngajum kajang dengan tutorial menekan kajang itu setidak sedikit 3x, sebagai simbol kemantapan hati para kerabat melepas kepergian mendiang dan menyatukan hati para kerabat jadi mendiang bisa dengan cepat melsayakan perjalanannya ke alam selanjutnya.

Ngaskara, Ngaskara bermakna penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilsayakan dengan tujuan supaya roh yang bersangkutan bisa bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pengajar kerabatnya yang tetap nasib di dunia.
Mameras, Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, berhasil, alias berakhir. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang telah mempunyai cucu, sebab menurut keyakinan cucu tersebutlah yang bakal menuntun jalannya mendiang melewati doa dan karma baik yang mereka lsayakan.

Papegatan, Papegatan berasal dari kata pegat, yang artinya putus, makna upacara ini adalah untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua faktor tersebut bakal menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan. Dengan upacara ini pihak keluarga berarti telah dengan cara ikhlas melepas kepergian mendiang ke tempat yang lebih baik. Sarana dari upacara ini adalah sesaji (banten) yang disusun pada suatu lesung batu dan diatasnya diisi dua cabang pohon dadap yang dibentuk semacam gawang dan dibentangkan benang putih pada kedua cabang pohon tersebut. Nantinya benang ini bakal diterebos oleh kerabat dan pengusung jenazah sebelum keluar rumah hingga putus.

Pakiriman Ngutang, Seusai upacara papegatan maka bakal dilanjutkan dengan pakiriminan ke kuburan setempat, jenazah beserta kajangnya kemudian dinaikan ke atas Bade/Wadah, yaitu menara pengusung jenazah (hal ini tak utama wajib ada, bisa diganti dengan keranda biasa yang disebut Pepaga). Dari rumah yang bersangkutan anak buah masyarakat bakal mengusung semua perlengkapan upacara beserta jenazah diiringi oleh suara Baleganjur (gong khas Bali) yang bertalu-talu dan bersemangat, alias suara angklung yang terlihat kecewa. Di perjalan menuju kuburan jenazah ini bakal diarak berputar 3x berlawanan arah jarum jam yang bermakna sebagai simbol mengembalikan unsur Panca Maha Bhuta ke tempatnya masing-masing. Tidak hanya itu perputaran ini juga bermakna: Berputar 3x di depan rumah mendiang sebagai simbol perpisahan dengan sanak keluarga.

  • Berputar 3x di perempatan dan pertigaan desa sebagai simbol perpisahan dengan lingkungan masyarakat.
  • Berputar 3x di muka kuburan sebagai simbol perpisahan dengan dunia ini.

Ngeseng, Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah tersebut, jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta, seusai berakhir kemudian barulah jenazah dibakar hingga hangus, tulang-tulang hasil pembakaran kemudian digilas dan dirangkai lagi dalam buah kelapa gading yang telah dikeluarkan airnya.

Nganyud, Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang tetap tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut, alias sungai.

Makelud, Makelud biasanya dilaksanakan 12 hari seusai upacara pembakaran jenazah. Makna upacara makelud ini adalah membersihkan dan menyucikan kembali lingkungan keluarga dampak kekecewaan yang melanda keluarga yang ditinggalkan. Filosofis 12 hari kekecewaan ini diambil dari Wiracarita Mahabharata, saat Sang Pandawa mengalami masa hukuman 12 tahun di tengah hutan.

2. Upacara Galungan

Hari raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu Bali setiap 210 hari, dengan menggunakan perhitungan kalender Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

Hari raya Galungan juga dirayakan oleh masyarakat Tengger dengan makna dan cara yang berbeda dengan masyarakat Bali, setidaknya hingga introduksi agama Hindu Dharma ke kawasan Tengger tahun 1980an. Masyarakat Tengger merayakan Galungan setiap 210 hari sekali di wuku galungan sebagai hari untuk memberkati desa, air, dan masyarakat. Tatacara perayaannya identik dengan barikan, satu upacara lain yang biasanya dilakukan tiap 35 hari sekali atau setelah bencana seperti gunung meletus, gempa, atau gerhana. Berbeda dengan barikan, hari raya galungan Tengger sudah tidak dilaksanakan dengan cara Tengger namun telah disatukan dengan perayaan galungan sesuai tatacara Hindu Bali.

3. Upacara Mekotek

Mekotek salah satu tradisi tolak bala dari Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia. Upacara Mekotek dilaksanakan dengan tujuan memohon keselamatan. Upacara Mekotek juga dikenal dengan istilah ngerebek. Mekotek merupakan warisan leluhur yang dilaksanakan turun temurun hingga saat ini oleh umat Hindu di Bali. Upacara Mekotek digelar setiap 6 bulan sekali, 210 hari (berdasarkan kalender Hindu) pada hari SabtuKliwon Kuningan tepat pada hari raya Kuningan atau selesai hari raya Galungan. Dahulu, perayaan Mekotek menggunakan besi, yang memberikan semangat juang untuk ke medan perang atau dari medan perang.Namun, karena banyak peserta yang terluka, maka tombak dari besi tersebut diganti dengan tongkat dari kayu pulet yang sudah dikupas kulitnya dan diukur panjangnya sekitar 2-3,5 meter. Para peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat madya yaitu kancut dan udeng batik dan berkumpul di pura dalem Munggu.Setelah berkumpul, mereka melakukan persembahyangan dan ucapan terima kasih atas hasil perkebunan. Setelah itu, seluruh peserta melakukan pawai menuju sumber air di kampung Munggu.Upacara ini diikuti oleh 2000 peserta, yakni penduduk Munggu yang terdiri dari 15 banjar turun ke jalan dari usia 12 hingga 60 tahun. Para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok yang setiap kelompok terdiri dari 50 orang.Tongkat kayu yang dibawa, diadu di atas udara membentuk piramida atau kerucut. Bagi peserta yang punya nyali, naik ke puncak kumpulan tongkat kayu tersebut dan berdiri diatasnya dan memberikan komando semangat bagi kelompoknya. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok lain. Komando yang diberikan oleh orang yang berada di puncak tongkat adalah menabrak kumpulan tongkat lawan atau kelompok lain. Tradisi Mekotek ini diiringi dengan gamelan untuk menyemangati para peserta.

SUKU ADAT BALI

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar, setiap Provinsinya memiliki suku bangsa dengan karakteristik masing-masing. Pulau Dewata ini salah satunya, mempunyai suku dengan ciri khas yang tidak dimiliki suku lain, berikut akan ulasan tentang suku yang ada di Bali:

  1. Suku Bali Aga di Kintamani dan Karangasem

Suku Bali Aga adalah salah satu subsuku bangsa Bali yang menganggap mereka sebagai penduduk bali yang asli. Bali Aga disebut dengan Bali pegunungan yang mana sejumlah suku Bali Aga terdapat di Desa Trunyan. Istilah Bali Aga dianggap memberi arti orang gunung yang bodoh karena mereka berada didaerah pegunungan yang masih kawasan pedalaman dan belum terjamah oleh teknologi.

Masyarakat Bali Aga hidup terisolasi di daerah pegunungan. Wisatawan yang ingin mengunjungi desa-desa tertentu juga harus berhati-hati dengan faktor geografis yang ada. Ketika berkunjung pun, kita harus menghargai adat istiadat setempat serta mengamati ritual-ritual seperti proses pengawetan kehidupan yang mereka miliki.

Di Tenganan, kegiatan pariwisata lebih mudah, karena penduduknya lebih ramah. selain itu ada festival tiga hari yang disebut Udaba Sambah diadakan selama bulan Juni atau Juli.

2. Suku Bali Majapahit

Suku Bali Majapahit merupakan salah satu suku yang mendiam wilayah pulau Bali yang dipengaruhi oleh adat budaya Majapahit, yang berawal dari tujuan Mahapati Gajah Mada yang ingin mempersatukan Nusantara, beserta rombongan masyarakat Majapahit datang ke wilayah Bali. Adapun suku-suku yang mendiami pulau Bali yaitu Bali Mula, Bali Aga dan Bali Majapahit, walaupun mayoritas merupakan Suku dari Bali Aga dan Bali Majapahit. Suku Bali Majapahit yaitu suku yang berasal dari masyarakat yang menganut kepercayaan Hindu dan adat istiadat Majapahit. Suku ini datang setelah adanya utusan dari Majapahit. Zaman Bali Majapahit atau Wong Majapahit bermula pada abad 14, yang tepatya ketika tahun 1350 M,  pada masa Sri Kresna yang berasal dari Kepakisan Kediri sebagai utusan Gajah Mada untuk mendiami wilayah Bali.

Kekhasan suku Bali Majapahit dalam hal mata pencaharian yaitu bercocok tanam di sawah, pada daerah dataran. Dan mempunyai satu subak atau satu sumber air yang sama. Suku Bali Majapahit juga diyakini memberikan pengaruh besar terhadap arsitektur Puri atau Keraton. Pengaruh Majapahit berkembang pada daerah pakraman bali pada wilayah dataran dan juga pengaruh kerjaan Majapahit ini berkembang di desa Menyali pada perkiraan tahun 633 M. Pada awalnya tidak ada suatu dasar konsep suatu pemukiman di desa Menyali, dan ketika Majapahit masuk ke desa tesebut. Desa Menyali memiliki struktur konsep Tri Hita Karana. Hal ini dibuktikan adanya letak Pura Kahyangan Tiga, pemukiman penduduk, dan juga tempat setra agung. Desa Menyali merupakan tempat percampuran adanya kebudayaan Suku Bali Mula dan Suku Bali Majapahit, yang memiliki sikap saling toleran dalam hal upacara ritual keagamaan, pemerintahan, ataupun perilaku keseharian. Saling toleransi ini tercermin dari kegiatan upacara adat dan ritual dari Suku Bali Mula dan Bali Majapahit bersama-sama dalam menjalankan kegiatan di suatu Pura yang sama dan pemuka adat dari masing-masing suku saling bertoleransi dengan melakukan ritual pada satu tempat khusus di Pura Desa, dan juga saling toleran seperti pembagian subak, maupun pemukiman di desa tersebut.

Blog Ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas perkuliahan Pengantar Aplikasi Komputer. Kunjungi Situs https://www.esaunggul.ac.id/

Diterbitkan oleh hazzanabilah

Di Buat Oleh Hazza Nabilah hi Friends, My Name is Hazza Nabilah. Call me Hazza. I'm 20th years old. Now i'm studying at Esa Unggul University majoring in Accounting and Work In Manufacturing . Please Contact me on, Email: Hazzanabilah01@gmail.com, IG : hazzanbl19

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai